6 Sisi Unik Dewi Sartika, Pejuang Emansipasi Sekeren Kartini

6 Sisi Unik Dewi Sartika, Pejuang Emansipasi Sekeren Kartini

Tak hanya perjuangkan kesetaraan, Dewi Sartika ternyata juga getol menyuarakan anti-poligami. (dok. Buku Raden Dewi Sartika Sang Perintis)

Liputan6.com, Bandung – Sama seperti RA Kartini, Raden Dewi Sartika juga adalah kalangan bangsawan. Serupa dengan Kartini, perempuan Sunda itu juga memperjuangkan kesetaraan hak perempuan dan laki-laki hingga keduanya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Namun, sosok Dewi Sartika tidak setenar Kartini. Padahal, pendiri Sekolah Kaoetamaan Isteri itu juga memiliki kepribadian unik. Berikut Liputan6.com merangkum enam sisi unik dari Dewi Sartika.

1. Dikenal Tomboi

Dituturkan Yan Daryono dalam buku Raden Dewi Sartika Sang Perintis, perempuan yang karib disapa Uwi itu ternyata tomboi meski setiap hari selalu mengenakan kebaya dan rambut disanggul cepol.

Cara bicara Dewi Sartika lugas dengan tutur kata yang tegas, bahkan kadang bernada keras tak seperti kebanyakan perempuan Sunda yang bertutur halus. Bahkan karena sikapnya yang lincah dan tak bisa diam, Dewi Sartika pernah terjatuh hingga tangan kanannya patah tulang.

Kecelakaan itu membuat anak perempuan keturunan ningrat menjadi kidal. Tangan kirinya lebih aktif digunakan dibanding tangan kanannya.

2. Bareng Abdi Dalem

Saat berumur 10 tahun, Dewi Sartika pernah tinggal di Cicalengka bersama kakak dan adiknya. Mereka dititipkan kepada keluarga Raden Demang Suriakarta Adiningrat, Patih Afdeling Cicalengka.

Dewi Sartika ditempatkan di kamar belakang, setara dengan para abdi dalem. Selama di sini, hidupnya dalam berbagai tekanan sekaligus kenangan pahit. Namun, Dewi Sartika dapat mengikuti berbagai pelajaran yang disampaikan oleh Agan Eni, istri keempat Patih Cicalengka, kepada para anak perempuan dari kalangan menak bawah yang tinggal juga di situ.

Anak-anak perempuan itu umumnya adalah anak-anak para kuwu, cutak, carik, mantri ulu-ulu dan sebagainya. Mereka sengaja disuruh mondok di rumah Patih Cicalengka untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Agan Eni.

3. Penentang Poligami

Dewi Sartika tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik dan menawan. Meski statusnya sebagai abdi dalem, hal itu tidak menyurutkan pancaran pesona Dewi Sartika.

Salah satu yang terpincut pesona kecantikan Dewi Sartika adalah Raden Kanjun Surianingrat. Kanjun tak lain salah satu putra Patih Cicalengka, Raden Suriakarta Adiningrat, yang sudah menikah dan punya satu anak.

Usaha Kanjun untuk menjadikan Dewi Sartika sebagai istri kedua gagal setelah ditolak dengan halus. Selain tak mungkin untuk jadi istri saudara sepupunya, Dewi Sartika pun sangat menentang poligami dan tidak ingin merusak rumah tangga yang sudah dibangun Raden Kanjun bersama istri.

Rekomendasi