Kisah Benteng Pelindung Kota Ternate Hilang Tergerus Reklamasi

Kisah Benteng Pelindung Kota Ternate Hilang Tergerus Reklamasi

Saat benteng pelindung Kota Ternate hilang, saat itu pula bencana datang bertubi-tubi. (Liputan6.com/Hairil Hiar)

Liputan6.com, Ternate - Benteng pelindung itu telah hilang. Pepohonan rimbun pelengkap keindahan pantai tinggal kenangan. Begitulah, riwayat hutan mangrove Kelurahan Manggadua, Kota Ternate.

Ekosistem mangrove itu sebenarnya jenis tanaman belukar yang toleran terhadap garam. Komunitas ekosistem itu tumbuh pada daerah pasang surut.

Salim Abubakar, peneliti mangrove Unkhair Ternate, mengatakan ekosistem mangrove merupakan tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai daerah tropis dan sub tropis.

Hutan mangrove berfungsi sebagai peredam gelombang dan angin badai, juga sebagai pelindung pantai dari abrasi, mencegah terjadinya intrusi air laut dan penahan lumpur.

"Tumbuhan mangrove berbeda dengan bakau. Bakau dominan hidup di habitat pantai, sementara mangrove tumbuh di daerah pantai berlumpur atau lumpur berpasir," kata dia kepada Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Salim mengemukakan hutan mangrove sebagai pagar pelindung di Kota Ternate itu punah dan kritis. Reklamasi pantai yang dilakukan pemkot setempat salah satu faktor.

"Reklamasi itu untuk pembangunan jalan, pemukiman, pelabuhan dan rumah toko," kata dia.

Salim mengatakan kawasan hilangnya hutan mangrove yang terparah di kota berjuluk Bahari Berkesan itu terdapat di Kelurahan Manggadua-Toboko, Kecamatan Ternate Tengah.

"(Sementara) hutan mangrove lainnya yang sebagian besar hilang ada di Kelurahan Kalumata, Gambesi dan Tobololo. Seluruhnya kritis karena kurangnya kesadaran warga."

"Kurangnya kesadaran warga masyarakat ini seperti membuang sampah di sekitar hutan mangrove. Juga pencemaran air laut dari tumpahan BBM Pertamina Jambula dan penambangan pasir," dia menambahkan.

Hilangnya mangrove karena ditebang berarti lepasnya kandungan karbon yang semula berada dalam mangrove tersebut. Lepasnya karbon ke atmosfer berkontribusi pada pemanasan global.

Abrasi Pantai Gambesi

Hilangnya hutan mangrove akibat reklamasi pantai di kota itu perlahan berdampak pada abrasi yang kian mengancam rumah-rumah dan kebun warga pesisir. Bahkan di Kelurahan Gambesi, hampir sebagian besar kebun kelapa milik warga setempat saat laut pasang sudah menyatu dengan air.

"Pohon kelapa sudah rusak. Mau bagaimana, hanya bisa pasrah," kata Ikram Sangaji, salah satu warga Kelurahan Gambesi, saat disambangi Liputan6.com, di lokasi abrasi pantai setempat, Selasa, 28 Februari 2017.

Ikram mengungkapkan bukan hanya pohon kelapa yang rusak akibat abrasi pantai, tapi puluhan lahan petani kangkung juga terendam air laut saat pasang.

Ia berharap program tanam mangrove yang dilakukan pemkot Ternate berbuah maksimal. Selain untuk mengantisipasi ancaman abrasi, warga Gambesi meminta pemerintah membuatkan tanggul pemecah ombak.

"Seperti yang anda (wartawan) lihat sudah semakin parah. Ini sudah lama (berlangsung). Lihat saja seluruh akar pohon kelapa semakin habis terkikis air laut," ucap dia.

Ikram pesimistis karena program menanam mangrove di pesisir pantai pernah dilakukan Pemkot Ternate pada 2001. Namun, ribuan pohon mangrove yang ditanam tak satupun tumbuh besar. Kurangnya perawatan dan pengawasan penyebab di antaranya.

Ketua Pusat Studi Kebencanaan Ternate Ridwan Lesi mengemukakan penanaman mangrove itu dikerjakan Dinas Perikanan Kota Ternate. Di sepanjang garis pantai Kelurahan Manggadua dan Kastela ditanam 10.000 pohon mangrove.

Menurut dia, wilayah pesisir pantai Kota Ternate sebagian besar telah mengalami perubahan fisik yang drastis berupa pergeseran garis pantai dari waktu ke waktu.

Rekomendasi