Journal: Petaka dari Tas Sekolah Bocah-Bocah

Journal: Petaka dari Tas Sekolah Bocah-Bocah

Sejumlah Anak SD Menggendong Tas yang kelebihan Beban (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Liputan6.com, Jakarta - Bel berbunyi saat matahari tengah bersinar terik di Jakarta. Keriuhan sontak pecah di antara siswa kelas empat SD Negeri 11 Rawa Bunga, Jakarta Timur, Rabu, 10 April 2017. Seperti umumnya anak SD, wajah tampak semringah ketika jam pulang tiba.

Salah satu siswa, Aulia Putri Namira, segera merapikan tas dan bergegas meninggalkan kelas. Bagi Aulia, perjalanan pulang merupakan kesenangan sekaligus perjuangan. Sebab, ia harus berjalan 250 meter dengan tas seberat 4,8 kilogram di punggung. 

Sudah sering Aulia mengeluhkan berat beban tasnya kepada sang bunda. "Ma, aku capek," keluh Aulia seperti dituturkan Eva Nilam Sari, ibunda Aulia kepada Journal Liputan6.com.

Cerita seperti ini bukan hanya sekali dua kali. Kata sang bunda, anaknya mengeluh setiap pulang dari sekolah. Bukan lantaran aktivitas sekolah yang membuat buah hatinya kecapekan, melainkan berat beban tas yang harus digendongnya selama pergi dan pulang sekolah.

Beban tas yang berat tak lepas dari jumlah buku yang harus dibawa ke sekolah. Jumlah buku ini menyesuaikan dengan jumlah mata pelajaran. Untuk satu mata pelajaran, kata Eva, anaknya harus membawa satu buku paket, dua buku tulis, dan satu buku Lembar Kerja Siswa (LKS).

Jika dalam satu hari Aulia harus mengikuti empat mata pelajaran, maka sedikitnya 16 buku harus dibawa. Berat 16 buku ini belum ditambah dengan bawaan lain yang biasa dibawa si buah hati, seperti air minum, payung, dan perlengkapan lain.

 "Itu kan berat. Jadinya tiap hari ngeluh," kata Eva.

Sejumlah Buku Pelajaran yang Dibawa Anak SD (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Masalah beban ini rupanya tak disadari sejumlah kepala sekolah. Kepala SD Negeri 11 Rawa Bunga, Asnah Magdauli Hutapea, mengaku kerap mendapati anak muridnya menggendong tas yang tampak berat.

Hanya saja, dia tidak tahu seberapa berat beban tas yang digendong. Terlebih, Asnah pun absen mengetahui batas toleransi beban tas yang ideal dibawa anak. "Saya tidak tahu," ucap Asnah.

Hal sama juga dikemukakan Kepala SD Negeri 01 Menteng Edi Kusyanto. Edi bahkan menyebut Dinas Pendidikan DKI Jakarta tidak memberikan imbauan terkait beban tersebut. Ia mengatakan beban tas tak menjadi prioritas dalam rapat antar-kepala sekolah di tingkat Provinsi DKI Jakarta.

"Ya kita bahas masalah program sekolah, bagaimana meningkatkan nilai anak," ujar Edi.

Jadwal Mata Pelajaran Anak SD (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Masalah beban tas berlebih bagi siswa ini merupakan masalah serius. Dokter Otdeh Siahaan Sp. OT, ahli tulang belakang dari Rumah Sakit Permata Jonggol, mengatakan beban tas yang tidak semestinya dinilai bisa membawa perubahan pada struktur tulang belakang. Masalah perubahan struktur ini perlu diwaspadai.

Karena itu, Otdeh menegaskan, masalah berat tas seharusnya segera menjadi bahasan para pendidik. Batas toleransi beban tas sudah menjadi kajian di dunia medis. "Bukan hanya dibahas secara nasional, tapi sudah dibahas secara internasional," kata Otdeh. 

Rekomendasi