Melongok Diet dan Pola Makan Pemompa Performa Cristian Gonzales

Melongok Diet dan Pola Makan Pemompa Performa Cristian Gonzales

Diet apa yang dilakukan Cristian Gonzales sehingga di usia 40 masih hebat?

Liputan6.com, Jakarta Ketika Cristian Gonzales mencetak lima gol ke gawang Semen Padang di babak semifinal leg kedua Piala Presiden 2017, Minggu (5/3), sontak banyak pencinta sepak bola yang terkejut

Gonzales, pria yang 30 Agustus 2017 berusia 41 tahun, ternyata masih energik. Dia masih tajam, handal sebagai penuntas peluang di depan gawang lawan, kegiatan yang sudah dilakukannya di Indonesia sejak tahun 2003.

Tak sampai di situ. Penyerang naturalisasi yang lahir di Montevideo, Uruguay, ini juga mengakhiri Piala Presiden 2017 sebagai pemain tersubur, dengan mencetak total 11 gol.

Jika bisa menyebut satu nama yang tidak terkejut dengan penampilan pesepak bola berambut pirang itu, di luar keluarga Gonzales sendiri tentunya, adalah ahli gizi alumnus Oklahoma State University Emilia Achmadi.

Menurut Emilia, salah satu faktor penyebab atlet mampu mempertahankan kondisi dan kebugaran hingga bisa bersaing di level tinggi pada usia di atas 35 tahun adalah pengaturan pola makan yang baik. Dan dia sangat yakin itu dianut oleh Cristian Gonzales.

"Dengan kemampuan seperti itu di usia 40 tahun, sudah pasti dia punya kedisiplinan di atas rata-rata pesepak bola lain," tutur perempuan yang juga terlibat dalam Program Indonesia Emas (Prima) ini.

Asupan gizi dari makanan memang penting bagi semua atlet dan mempengaruhi banyak aspek terkait performanya, mulai daya tahan cedera sampai kemampuan fisik mempertahankan keahlian hingga usia yang tak lagi muda. Namun, bukan hal mudah menerjemahkan itu dalam praktik.

Khusus di sepak bola, saat bertanding atlet kerap melakukan pergerakan seperti berlari, berjalan, melompat, menendang sembari berkonsentrasi selama paling sedikit 90 menit. Karena itulah mereka perlu menyiapkan diri dengan makanan yang menunjang daya tahan ("endurance") tubuh.

Komite Medis Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menyebutkan, pada level elite, seorang pemain sepak bola bisa berlari rata-rata sejauh 10-13 kilometer, disertai dengan lari cepat ("sprint") sejauh 600 meter sampai 2,4 kilometer dalam satu laga.

Denyut jantung mereka juga bisa mencapai 85 persen lebih tinggi batas normal dan kebutuhan oksigen 70 persen dari limit maksimal. Artinya, setiap atlet lapangan hijau, yang berat badannya sekitar 75 kilogram, membutuhkan energi sebesar 1.800 kilokalori.

Dan demi mencukupkan stamina, pesepak bola mesti mengonsumsi makanan berkabohidrat, "bahan bakar" tubuh paling penting, sebelum bertanding.

"Tentu yang harus dikonsumsi adalah karbohidrat bagus, bukan yang tidak bagus. Contoh yang bagus itu buah-buahan, sayur-sayuran, nasi dari beras merah. Yang tidak bagus seperti makanan dari tepung putih, kue-kue," ujar Emilia.

Beberapa jenis asupan karbohidrat yang disarankan untuk pesepak bola adalah sereal, susu, yoghurt, salad dan kentang. Guna menjaga konsentrasi, disarankan pula meminum minyak ikan, contoh ikan salmon, dan lemak baik misalnya kacang-kacangan dan biji-bijian.

Rekomendasi